Friday, May 20, 2016

Sejarah Singkat Kisah Hidup Pakih Gani (Tuan Faqih Abdul Ghoni)

Sejarah Singkat Kisah Hidup Pakih Gani (Tuan Faqih Abdul Ghoni) - Ayah Tuan Faqih Abdul Ghoni bernama H. Muhammad Sehat yang berasal dari Natal atau Kabupaten Madina Tapanuli. Marganya Harahap. Ia dilahirkan di Air Bangis Pasaman. Panggilan sehari-harinya Buyung Laman. Ayahnya bekerja sebagai petugas Beacukai yang dahulunya dinamai “Mantri bom”. Ibunya bernama Hj. Nilam yang orang tuanya berasal dari bukit batu. Panggilan Akrab dikalangan cucu-cucunya adalah Andung.


Sebagai petugas beacukai, Ayah Tuan Faqih sering berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya. Hampir sepertiga pantai timur sumatra telah dijelajahinya diantarnya di Pelabuhan Tanjung Layang di Kabupaten Meranti sekarang, maka disanalah lahir seorang anak laki-laki yang diberinama Abdul Ghoni tepatnya di Desa Lukit. Pada masa itu kebanyakan penduduk desa Lukit adalah suku asli atau banyak yang menyebutnya dengan suku hutan dan sekarang dipanggil dengan orang-orang Akit yang menganut faham animisme yang percaya pada hantu dan puaka.

Diceritakan pada saat Tuan Faqih lahir ada dua keanehan, yaitu pertama ia lahir tidak bernajis (berdarah), kedua waktu ia masih bayi sepasang burung perkutut atau burung ketitir sering menyanyikannya di dalam buaiyan. Setelah ia tamat dari sekolah rakyat, ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah Belanda HI-EIS, kemudian ia melanjutkan sekolah Tenschoi atau Pandar School, yaitu setingkat SMP saat ini. selanjutnya ia melanjutkan sekolah di kota Medan kemudian ke Sekolah Milo atau setingkat dengan SMA sekarang. Kebetulan pada waktu itu ayahnya sudah menjabat kepala beacukai di Bagan Siapi-api.

Dari penyelidikan pemerintah kolonial Belanda didapati bahwa Abdul Ghoni adalah anak yang terpintar di Sekolah Milo. Oleh karena itu, pihak kolonial mengirim surat kepada ayahnya Muhammad Sehat agar anaknya disekolahkan ke negeri Belanda untuk dikaderkan sebagai pimpinan tertinggi yaitu gubernur jenderal termuda di tanah jajahan hindia Belanda sementara umur Abdul Ghoni ketika itu baru mencapai belasan tahun. Ternya orang tuanya mendukung rencana pihak kolonial tersebut. namun Allah swt berkehendak lain, ketika sedang ujian akhir, tiba-tiba pemikirannya berubah tidak mau lagi melanjutkan ujian. Ayahnya sangat kesal dan marah sambil berkata,”sayang ghani! Tawaran Belanda sudah cukup baik untukmu, kenapa tiba-tiba engkau menolak. Lalu Abdul Ghoni menjawab,”kenapa bapak memilih dunia? Padahal dunia ini dikejar tidak akan habis-habisnya. “kalau begitu, kemana engkau mau belajar?. Sambut ayahnya. Lalu Abdul Ghoni berkata,”antarkan saya pak ke Babussalam, saya mau mendalami tentang Islam ini. Mendengar perkataan anaknya, ayahnyapun lega lalu ia mengantarkan Abdul Ghoni ke Babussalam.

Di Babussalam kecemerlangan Abdul Ghoni semakin tampak dan menonjol. Setiap hari Abdul Ghoni mengemukakan persoalan-persoalan yang aneh-aneh kepada guru-gurunya. Padahal persoalan seperti itu belum pernah dikemukakan oleh murid-murid sebelumnya. Hampir semua pertanyaan yang diajukan Abdul Ghoni tidak bisa dijawab oleh guru-guru di sana. Oleh karena guru-guru di Babussalam tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Abdul Ghoni, merekapun merasa malu karena Babussalam pada waktu itu adalah sekolah agama yang tertinggi dan ternama. Akhirnya para guru mengadakan rapat/pertemuan yang memutuskan bahwa mereka sepakat memberikan gelar Faqih kepada Abdul Ghoni yang artinya orang yang sangat memahami masalah syariat dan hakikat. Lalu merekapun memberikan sertifikat (ijazah) kepadanya tanpa melalui proses ujian lagi. (Bersambung, klik link dibawah ini)
Sumber Tulisan : Ketua MUI Kabupaten Bengkalis, H Amrizal M.Ag